Example floating
Example floating

OMC Dikerahkan Atasi Karhutla Berau, Pesawat Siap Terbang hingga Lima Sortie Sehari

BERAUSATU.ID, TANJUNG REDEB- Harapan hujan mulai terbuka di tengah karhutla dan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Berau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi pertumbuhan awan hujan mencapai 90 hingga 98 persen dalam lima hari ke depan.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mempercepat turunnya hujan dari awan yang memenuhi kriteria penyemaian.

PMG Muda Kedeputian Modifikasi Cuaca BMKG, Hari Saputro, mengatakan pertumbuhan awan pada, Senin (24/08/2026) cukup baik.

“Hari ini potensinya cukup baik, pertumbuhan awannya cukup banyak. Kesesuaian prediksi kita berada di rentang 90-98 persen,” ujar Hari.

Dijelaskanya, OMC tidak dilakukan dengan menciptakan awan baru. Penyemaian hanya dilakukan pada awan yang sudah tumbuh dan memiliki kandungan uap air yang cukup.

“Kita membutuhkan awan yang tumbuh berkembang dan punya massa uap air. Awan matang itu kemudian kita semai agar dorongan jatuhnya air menjadi lebih cepat,” jelasnya.

Menurutnya, tidak semua awan dapat disemai. Tim terlebih dahulu menganalisis karakteristik awan dan kondisi atmosfer untuk memastikan peluang terbentuknya hujan.

Dalam proses penyemaian, BMKG menggunakan bahan semai dengan ukuran partikel sangat halus hingga sekitar 0,1 mikron. Bahan tersebut berbeda dengan garam dapur biasa dan digunakan untuk membantu proses pembentukan butiran air di dalam awan.

Meski potensi pertumbuhan awan cukup tinggi, keberhasilan penyemaian tetap bergantung pada kondisi awan. Hari menyebut peluang hujan setelah penyemaian berada pada kisaran 30 hingga 50 persen. Jika kondisi awan ideal, hujan diperkirakan turun sekitar dua hingga tiga jam setelah penyemaian.

“Jika kondisi awan ideal, estimasi rentang waktu dari proses penyemaian hingga turun hujan berkisar antara dua sampai tiga jam,” katanya.

OMC di Berau dijalankan BNPB atas permintaan Pemerintah Kabupaten Berau. Operasi tersebut direncanakan berlangsung selama lima hari sebagai bagian dari upaya penanganan karhutla dan pengurangan dampak kabut asap.

Sementara itu, Analis Kebencanaan Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB, Tono Sumarsono, mengatakan pemerintah pusat memberikan dukungan terhadap penanganan karhutla di Berau.

“Operasi ini didasari permintaan Pemkab Berau kepada Kepala BNPB dan BRIN. Kami dari pusat hadir untuk men-support daerah karena penanganan bencana karhutla harus dilakukan bersama-sama,” ujar Tono.

BNPB menyiagakan satu unit pesawat Cessna Grand Caravan 208B untuk mendukung penyemaian awan. Sebanyak 10 ton bahan semai telah dikirim dari Jakarta melalui Balikpapan.

Dalam satu kali penerbangan atau sortie, pesawat mampu membawa sekitar satu ton bahan semai. Jika kondisi atmosfer mendukung, pesawat dapat melakukan empat hingga lima sortie dalam sehari.

Tono mengatakan penerbangan dilakukan berdasarkan hasil pemantauan radar dan analisis meteorologi. Selama masih terdapat awan yang memenuhi kriteria penyemaian, penerbangan tetap dilakukan.

“Begitu radar dan analisis meteorologi menunjukkan adanya potensi awan semai, maksimal dalam 30 menit proses loading selesai dan pesawat langsung lepas landas,” tegasnya.

Pelaksanaan OMC melibatkan BNPB, BRIN, BMKG, BPBD, pihak bandara hingga TNI AU.

Pemantauan pertumbuhan awan dilakukan sejak pagi hingga malam. Tim menentukan lokasi dan waktu penyemaian berdasarkan kondisi atmosfer serta perkembangan awan.

OMC diharapkan membantu membasahi wilayah terdampak karhutla, mengurangi titik panas dan menekan kabut asap.

Namun, BMKG menegaskan potensi pertumbuhan awan 90 hingga 98 persen tidak berarti hujan pasti turun. Keberhasilan penyemaian tetap bergantung pada karakteristik, kandungan uap air dan perkembangan awan yang tersedia.

Lima hari pelaksanaan OMC menjadi kesempatan untuk memanfaatkan setiap pertumbuhan awan yang memenuhi syarat di wilayah Berau. (*MNH)