Di beberapa sudut wilayah Kampung Tembudan, pohon-pohon durian, langsat, kelapa, hingga rambutan masih tumbuh berkelompok. Bagi sebagian orang, pohon-pohon itu mungkin hanya peninggalan kebun lama. Namun bagi masyarakat setempat, keberadaannya adalah penanda perjalanan panjang sebuah kampung yang lahir dari semangat persatuan.
Tak jauh dari bekas kebun-kebun itu, masih terdapat makam-makam tua yang ditandai rumpun bambu. Jejak-jejak tersebut menjadi saksi bahwa jauh sebelum Kampung Tembudan berdiri seperti sekarang, masyarakat Dayak Ahi pernah hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang tersebar di berbagai wilayah.
Kala itu, kehidupan masyarakat masih sangat bergantung pada alam. Berburu di hutan dan berkebun menjadi sumber penghidupan utama. Perpindahan tempat tinggal pun bukan hal yang asing, mengikuti kebutuhan hidup dan kondisi lingkungan.
Meski menetap di lokasi yang berbeda, masyarakat sesungguhnya berasal dari akar yang sama. Mereka memiliki hubungan kekeluargaan, menggunakan bahasa yang sama, serta memegang teguh adat dan budaya Dayak Ahi yang diwariskan turun-temurun.
Catatan sejarah Kampung Tembudan menyebutkan, sedikitnya terdapat sepuluh perkampungan yang menjadi cikal bakal berdirinya kampung ini.
Perkampungan Jantui yang dipimpin Nek Sunsung berbatasan dengan Limbu, Danum Putung, dan Liung Kuping. Di wilayah lain terdapat Perkampungan Kuping Inyigit yang dipimpin Nek Rangga, Perkampungan Limbu yang dipimpin Katua Adat Nek Lihat, serta Danum Putung yang berada di bawah kepemimpinan Nek Taruk dan Nek Long.
Kemudian ada Perkampungan Bual-Bual yang dipimpin Nek Imbul, Perkampungan Dakutu yang dipimpin Nek Sian, Kalamanting dan Samuntai yang juga dipimpin Nek Imbul, Senginau yang dipimpin Nek Bakatan, hingga Perkampungan Linsang dan Labuan Cermin yang berada di pesisir dan pada masanya dikenal sebagai pusat perdagangan berbagai kebutuhan pokok masyarakat.
Masing-masing wilayah memiliki kawasan hutan penjelajahan dan pemukiman yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Walau hidup dalam kelompok-kelompok kecil, mereka tetap berada dalam satu ikatan adat dan budaya yang sama.
Perjalanan sejarah itu kemudian berubah pada tahun 1949.
Atas saran pemerintah saat itu, masyarakat dari berbagai perkampungan sepakat meninggalkan kehidupan yang terpencar. Mereka memilih membangun satu pusat permukiman baru di kawasan yang saat itu dikenal sebagai Linsang Labuan Cermin.
Keputusan tersebut bukan sekadar memindahkan tempat tinggal. Peristiwa itu menjadi awal lahirnya sebuah identitas baru yang kelak dikenal sebagai Kampung Tembudan.
Nama Tembudan sendiri berasal dari bahasa asli masyarakat setempat yang berarti “tempat pertemuan” atau “tempat perkumpulan”. Makna itu seolah merangkum perjalanan panjang masyarakat yang sebelumnya hidup terpisah, lalu dipersatukan dalam satu kampung.
Sejak saat itulah Tembudan mulai tumbuh. Dari sebuah permukiman yang dibangun atas semangat kebersamaan, kampung ini terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
Perjalanan tersebut juga tercermin dalam estafet kepemimpinan yang terus berlanjut dari masa ke masa.
Berdasarkan catatan kampung, kepemimpinan adat diawali oleh Nek Pakayan dan Nek Gasing sebagai Katua Tua Adat. Pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Nek Dudik sebagai Pembakal pada periode 1938–1948, disusul Nek Kunsik (1948–1958), Nek Sawing (1958–1968), dan Imbul (1968–1978).
Memasuki era pemerintahan kampung, kepemimpinan diteruskan oleh Ading Tonson yang menjabat Kepala Kampung selama periode 1978–2006. Setelah itu, tongkat estafet beralih kepada Nur Iman yang memimpin dari 2006 hingga 2023.
Kini, sejak 2023, Kampung Tembudan dipimpin oleh Zainuddin Rahim.
Lebih dari tujuh dekade sejak masyarakat memutuskan bersatu, nama Tembudan masih menyimpan makna yang sama seperti ketika pertama kali disematkan: tempat berkumpul, tempat bertemu, dan tempat masyarakat membangun masa depan bersama. Di sanalah sejarah terus hidup, bukan hanya melalui cerita para tetua, tetapi juga melalui jejak-jejak yang masih terawat hingga hari ini.
















