BERAUSATU.ID, TANJUNG REDEB- Rencana pembuatan film yang mengangkat kisah Raja Alam Sultan Alimuddin mendapat dukungan dari DPRD Berau. Film tersebut dinilai dapat menjadi media penting untuk memperkenalkan sejarah perjuangan tokoh daerah kepada masyarakat luas.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, mengatakan film bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana efektif dalam menyampaikan nilai sejarah dan kebudayaan kepada generasi muda.
Menurutnya, kisah perjuangan Sultan Alimuddin memiliki nilai historis yang kuat dan layak diangkat dalam sebuah karya film yang dapat dinikmati masyarakat secara luas.
“Kalau hanya ditayangkan di teater mungkin hanya sesaat mengingatkan kita. Tapi kalau film, masyarakat bahkan dunia bisa menyaksikan. Jadi ini bukan sekadar tontonan, melainkan warisan sejarah yang bisa terus dikenang,” ujarnya.
Dijelaskannya, Sultan Alimuddin dikenal sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah Berau, termasuk dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda di wilayah perairan.
Dalam catatan sejarah yang tertulis di prasasti makamnya, diceritakan bagaimana kapal kayu milik Raja Alam harus menghadapi sejumlah kapal Belanda dalam pertempuran laut.
“Kita bisa bayangkan, dengan kapal kayu beliau menghadapi sekitar sepuluh kapal Belanda dalam perang laut dan tidak menyerah. Setelah itu beliau diasingkan ke Makassar. Sejarah seperti ini harus diketahui generasi sekarang,” jelasnya.
Sutami juga mengingat kembali proses pemugaran makam Sultan Alimuddin di Kampung Tembudan sekitar tahun 2005 hingga 2006. Menurutnya, dari proses tersebut mulai banyak masyarakat yang mengetahui kembali jejak sejarah perjuangan tokoh tersebut.
Namun, ia menilai masih banyak cerita sejarah yang perlu digali lebih dalam, termasuk kisah pengasingan hingga proses pemulangan Sultan Alimuddin dari Makassar.
Karena itu, ia menekankan agar rencana produksi film tersebut dipersiapkan secara matang, baik dari sisi perencanaan anggaran maupun kualitas sumber daya manusia yang terlibat dalam penggarapannya.
“Jangan sampai pembuatan film ini terkesan asal-asalan. Harus serius, baik dari sisi anggaran maupun SDM yang terlibat,” tegasnya.
Lebih lanjut, dikatakannya apabila digarap dengan baik, film tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga berpotensi mendapat pengakuan lebih luas, termasuk dalam ajang penghargaan film bertema budaya dan sejarah daerah.
Sutami menambahkan DPRD Berau terbuka untuk berdiskusi dengan pihak penggagas film, termasuk organisasi masyarakat Rabba Rimpa Bahari yang menginisiasi proyek tersebut.
Menurutnya, komunikasi yang baik diperlukan untuk membahas berbagai kebutuhan dalam proses produksi hingga langkah strategis agar rencana tersebut dapat berjalan optimal.
“Kabupaten Berau ini unik karena memiliki dua kesultanan yang harus kita jaga dan angkat nilai sejarahnya. Saya siap berdiskusi, dan kalau nanti ada kendala kita bisa mencari solusi bersama agar rencana ini berjalan dengan baik,” pungkasnya. (*MNH/ADV)
















