BERAUSATU.ID, TANJUNG REDEB- Potensi perkebunan kakao di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, mulai dikembangkan sebagai peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui program Sigap Sejahtera, pengembangan komoditas ini menyasar lima kampung dengan potensi lahan mencapai 80 hektare.
Lima kampung tersebut yakni Merasa, Muara Lesan, Lesan Dayak, Sido Bangen, dan Long Beliu. Dari total potensi lahan yang disiapkan, proses pembersihan lahan tanam baru telah mencapai sekitar 30 hektare. Bahkan, sebagian di antaranya sudah memasuki tahap penanaman.
Koordinator Kecamatan Kelay Program Sigap Sejahtera, Abraham Ari Putra, mengatakan kakao memiliki peluang untuk menjadi salah satu komoditas unggulan yang dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. Potensi lahan yang tersedia dinilai menjadi modal awal bagi petani untuk mengembangkan usaha perkebunan.
“Kakao memiliki nilai jual yang tinggi dan peluang pasar yang luas, sehingga menjadi komoditas strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kelay,” ujarnya.
Pengembangan kakao ini tidak hanya berfokus pada pembukaan lahan dan penanaman bibit. Program Sigap Sejahtera juga memberikan pendampingan agar petani mampu mengelola kebun secara optimal dan menghasilkan produk berkualitas.
Dukungan tersebut meliputi bantuan bibit, pupuk, dolomit, hingga tanaman penaung. Petani juga mendapatkan pendampingan mulai dari perawatan tanaman, penanganan panen, hingga proses pascapanen.
Selain memperkuat sektor budidaya, program ini turut membuka peluang pengembangan kakao hingga tahap hilirisasi. Hasil perkebunan nantinya diarahkan agar tidak hanya dijual dalam bentuk biji kakao, tetapi juga berpotensi diolah menjadi produk cokelat bernilai tambah.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Dengan pengolahan hasil perkebunan, petani berpeluang memperoleh nilai ekonomi lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan penjualan bahan mentah.
Meski demikian, pengembangan produk olahan membutuhkan dukungan lanjutan, mulai dari peningkatan keterampilan pengolahan, penjagaan kualitas produk, hingga penguatan jaringan pemasaran.
LPengembangan kakao di Kelay juga melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK), Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal (YDBBC), Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), kelompok tani, serta unsur masyarakat lainnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat pendampingan dan kapasitas petani dalam mengelola perkebunan secara berkelanjutan. Keterlibatan kelompok tani juga menjadi faktor penting karena keberhasilan pengembangan komoditas ini bergantung pada pengelolaan kebun secara langsung oleh masyarakat.
Dengan potensi lahan mencapai 80 hektare dan pembukaan lahan yang telah berjalan sekitar 30 hektare, pengembangan kakao di Kecamatan Kelay mulai menunjukkan langkah konkret.
Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang dibuka. Produktivitas tanaman, kualitas hasil panen, kemampuan pengolahan, serta kepastian akses pasar menjadi faktor penting agar kakao benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
Abraham berharap pengembangan melalui program Sigap Sejahtera dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya perkebunan kakao di Kecamatan Kelay. Ke depan, komoditas ini diharapkan mampu membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*MNH)
















