BERAUSATU.ID, TANJUNG REDEB- Potensi kerajinan Batik Panaan di Kampung Panaan kembali mendapat perhatian dari DPRD Kabupaten Berau. Produk batik yang dikenal menggunakan teknik ramah lingkungan itu dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata berbasis budaya dan alam di daerah tersebut.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Rudi Manungsong mengatakan, keberadaan Batik Panaan merupakan bentuk kreativitas masyarakat lokal yang patut diapresiasi. Menurutnya, produk kerajinan tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga bisa menjadi identitas budaya sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Ia menilai, batik dengan motif khas dan teknik yang memanfaatkan bahan alami tersebut berpotensi menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Berau, khususnya mereka yang tertarik pada konsep wisata berkelanjutan atau eco tourism.
“Batik Panaan ini merupakan bentuk kecintaan masyarakat terhadap daerahnya. Kreativitas seperti ini tentu perlu kita dukung, karena memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata berbasis budaya dan lingkungan,” ujarnya, Rabu (24/02/2026).
Namun demikian, Rudi menekankan bahwa pengembangan batik yang menggunakan bahan alami tetap perlu melalui proses pengujian secara berkala. Hal ini penting untuk memastikan kualitas, keamanan, serta ketahanan bahan yang digunakan dalam proses produksinya.
“Memang bahan alami menjadi nilai jual batik ini, tetapi perlu ada uji berkala terlebih dahulu. Hasil pengujian tersebut nantinya bisa menjadi standar atau tolak ukur keamanan bahan baku yang digunakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, tren wisata saat ini tidak hanya berfokus pada keindahan alam, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik. Karena itu, kerajinan seperti batik dengan teknik eco print atau pewarna alami dapat menjadi nilai tambah bagi sektor pariwisata Berau.
Di beberapa desa wisata, konsep wisata kreatif yang melibatkan kerajinan lokal sudah terbukti mampu menarik minat wisatawan. Hal serupa diyakini dapat diterapkan di Kampung Panaan dengan mengintegrasikan kegiatan wisata alam dan budaya.
Pengunjung yang datang, kata dia, tidak hanya menikmati panorama alam seperti kawasan Puncak Rejeki di Panaan, tetapi juga dapat mengikuti berbagai aktivitas kreatif seperti workshop membatik, pameran kerajinan, hingga edukasi tentang penggunaan bahan alami dalam proses produksi.
“Jika dikelola dengan baik, wisata kreatif seperti ini bisa memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Mereka tidak hanya melihat, tetapi juga belajar dan terlibat langsung dalam aktivitas budaya masyarakat,” tambahnya.
Rudi berharap pengembangan Batik Panaan ke depan tidak hanya memperkuat sektor ekonomi kreatif masyarakat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan eco tourism di Kabupaten Berau.
Dengan demikian, potensi wisata Berau tidak hanya dikenal melalui kekayaan alamnya, tetapi juga melalui pengalaman budaya lokal yang autentik dan berkelanjutan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. (*MNH/ADV)
















