Example floating
Example floating

PT HSB Catat Kinerja Positif 2025, Laporan Keuangan Raih WTP

BERAUSATU.ID, TANJUNG REDEB- PT Hutan Sanggam Berau (HSB) menutup tahun buku 2025 dengan capaian kinerja yang positif. Perusahaan daerah yang bergerak di sektor kehutanan tersebut berhasil meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan yang telah diaudit.

Capaian tersebut disampaikan dalam kegiatan publikasi penyampaian laporan tahunan yang digelar di Kantor PT Hutan Sanggam Berau, Kamis (12/3/2026).

Direktur Utama PT HSB, Roby Maula, menjelaskan bahwa laporan keuangan perusahaan per 31 Desember 2025 telah melalui proses audit dan dinyatakan menyajikan laporan secara wajar dalam semua hal yang material.

“Laporan keuangan perusahaan telah diaudit dan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian. Ini menjadi indikator bahwa pengelolaan keuangan perusahaan berjalan secara transparan dan akuntabel,” ujarnya.

Selain mencatat kinerja keuangan yang sehat, perusahaan juga membagikan dividen dari laba bersih tahun 2025 kepada para pemegang saham.

Dijelaskannya, dari total laba bersih sebesar Rp6,8 miliar, PT HSB menetapkan pembagian dividen sebesar 62 persen atau sekitar Rp4,2 miliar.

Lebih lanjut, pembagian dividen tersebut diberikan kepada para pemegang saham sesuai porsi kepemilikan. “Pemerintah Kabupaten Berau menerima 50 persen atau sekitar Rp2,1 miliar, PT Inhutani I sebesar 30 persen atau Rp1,2 miliar, dan Perusda Kehutanan Sylva Kaltim Sejahtera sebesar 20 persen atau sekitar Rp854 juta,” jelasnya.

Meski demikian, Roby mengakui sektor kehutanan masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya kenaikan Biaya Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) yang berdampak pada harga kayu di pasar.

Menurutnya, kenaikan biaya tersebut membuat sejumlah industri kayu menahan pembelian karena harga bahan baku menjadi lebih tinggi.

“PSDH naik cukup tinggi sehingga beberapa industri menahan diri untuk membeli kayu karena harga menjadi mahal. Karena itu para pemegang saham juga meminta perusahaan menyiapkan strategi baru untuk menjaga kinerja usaha,” terangnya.

Sebagai langkah antisipasi, PT HSB mulai menyiapkan diversifikasi usaha dengan memanfaatkan kawasan hutan untuk kegiatan produktif lain, termasuk sektor pertanian.

Salah satu komoditas yang tengah dipertimbangkan adalah pengembangan tanaman jagung, yang dinilai memiliki potensi nilai ekonomi dengan perputaran hasil yang relatif cepat.

“Sambil tetap mengoptimalkan usaha kayu, kami juga mendorong pengembangan tanaman pertanian di kawasan hutan agar memberikan nilai tambah bagi perusahaan sekaligus mendukung ketahanan pangan,” pungkasnya. (*MNH/ADV)