BERAUSATU.ID, TANJUNG REDEB- Selama dua hari aktivitas penerbangan di Bandara Kalimarau, Berau, terganggu akibat kabut asap. Pada Kamis (17/9/2026) lalu, tak satu pun penerbangan beroperasi setelah jarak pandang turun hingga tidak memenuhi batas keselamatan.
Gangguan belum sepenuhnya berakhir pada Jumat (18/9/2026) lalu. Sejumlah penerbangan dari dan menuju Berau kembali dibatalkan maupun dialihkan karena kondisi jarak pandang masih belum memungkinkan.
Kini, situasi berangsur pulih. Sejak Sabtu (19/9/2026) sore, jarak pandang di Bandara Kalimarau kembali berada pada kisaran 2.500 hingga 4.000 meter. Aktivitas penerbangan pun telah berjalan normal.
Kepala Bandara Kalimarau, Patah Atabri, membenarkan kondisi tersebut saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).
“Alhamdulillah operasional di Bandara Kalimarau normal. Jarak pandang sampai saat ini 2.500-4.000 meter, mulai hari Sabtu sore,” kata Patah.
Sebelumnya, kabut asap membuat jarak pandang berada di bawah batas yang dipersyaratkan untuk keselamatan penerbangan. Kondisi ini langsung berdampak terhadap sejumlah rute yang menghubungkan Berau dengan daerah lain.
Pada Kamis (17/9/2026), seluruh penerbangan dibatalkan. Sehari kemudian, Super Air Jet rute Balikpapan menuju Berau dan Berau menuju Balikpapan menjadi salah satu penerbangan yang terdampak.
Batik Air juga mengalami pembatalan dan pengalihan penerbangan dari Jakarta dan Surabaya menuju Berau maupun rute sebaliknya. Sementara Wings Air rute Samarinda menuju Berau turut dibatalkan.
Perubahan mulai terlihat pada Sabtu sore. Ketika jarak pandang membaik, operasional penerbangan kembali berjalan. Kondisi tersebut membuat konektivitas udara Berau dengan sejumlah daerah kembali normal.
Meski demikian, kondisi jarak pandang masih menjadi perhatian dalam operasional penerbangan. Sebab, perubahan kondisi udara dapat kembali memengaruhi aktivitas penerbangan apabila kabut asap meningkat.
Pulihnya operasional Bandara Kalimarau menjadi kabar penting bagi mobilitas masyarakat dan konektivitas Berau setelah sebelumnya penerbangan sempat lumpuh akibat buruknya jarak pandang. (*MNH)
