BERAUSATU.ID, TANJUNG REDEB- Ketua Komisi III DPRD Berau, Liliansyah, menyebut kerja sama dengan sektor swasta harus menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembinaan atlet di Kabupaten Berau.
Menurutnya, tanpa dukungan pendanaan yang lebih luas, pembinaan tidak akan mampu bersaing dengan daerah lain yang telah lebih dulu mengadopsi pola pendanaan campuran.
Dikatakannya, perpindahan atlet ke kabupaten maupun provinsi lain merupakan sinyal lemahnya sistem pembinaan saat ini. Banyak atlet yang merasa tidak mendapatkan kepastian masa depan dan akhirnya menerima tawaran daerah lain yang mampu memberikan perhatian lebih stabil.
“Ini bukan sekadar soal honor. Atlet butuh perhatian, kepastian, dan rasa dihargai. Dan sektor swasta bisa menjadi penguat di titik itu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ia mencontohkan banyak daerah yang maju dalam dunia olahraga karena berhasil menggandeng perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Pola seperti sponsorship, dukungan peralatan, hingga pembinaan jangka panjang dinilai sangat mungkin diterapkan di Berau, mengingat banyaknya perusahaan besar yang beroperasi.
Menurutnya, minat masyarakat terhadap olahraga di Berau sangat tinggi, namun pertumbuhan tersebut tidak didukung dengan fasilitas dan sistem pembinaan yang memadai. Tanpa pendanaan yang kuat, baik dari pemerintah maupun perusahaan, sulit bagi Berau mempertahankan atlet unggulannya.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Dengan kolaborasi CSR, pembinaan bisa lebih berkelanjutan dan atlet merasa diperhatikan,” ujarnya.
Menjelang Porprov 2025 dan persiapan menuju PON 2028, Liliansyah meminta Dispora dan KONI Berau untuk mulai membuka ruang komunikasi dengan perusahaan-perusahaan lokal. Ia menegaskan pentingnya skema kolaborasi yang terstruktur agar pembinaan tidak lagi berjalan sporadis.
“Dengan kemitraan yang jelas, kita bukan hanya menyiapkan prestasi, tetapi memastikan atlet terbaik tetap bertahan dan melihat masa depan mereka di Berau,” pungkasnya. (*MNH/ADV)
















